Fikiran,kesukaan,kesan,harapan,curahan,omelan dan selamat datang!

Senin, 19 Desember 2011

cerita dari sepucuk surat merah


Aroma kemerdekaan muncul ketika jam perkuliahan usai. Tak ada yang lebih indah selain beraktifitas bebas di pagi hari yang cerah itu.tapi sebelum banyak bergerak salah satu syaratnya mungkin adalah mengganjal perut terlebih dahulu. tak jauh dari kampus banyak tempat-tempat makanan yang menawarkan jajanannya yang tak mengecewakan karena disesuaikan dengan lingkungan mahasiswa atau juga anak perantauan (kos).
Hingga tibalah ajakan dari seorang kawan yang memilih tempat makan jauh dari lingkungan yang saya sebut tadi.entah apa motivasinya  mencanangkan kesana.dia seperti mengisyaratkan bahwasannya tempat itu makanannya yang terbaik di kota ini. Saya beserta teman yang lain tampak kurang setuju dengan usulan itu,untuk menutupi ketidak setujuan itu kami juga mengusulkan tempat makan yang tak jauh dari kampus dan yang pastinya sudah di akui oleh kami sendiri.tetapi dia tetap bersikeras mempertahankan usulannya.
Dengan berat hati kami  pun beranjak kesana,dengan judul saling menghargai dan menghormati.kami mengendarai sepeda motor beriringan melewati jalan universitas dan kemudian berbelok memasuki gang kecil yang langsung mengantarkan kami ke jalan besar.tampak angkot-angkot yang sibuk mengejar setoran dan saling menyalip tak kenal ampun.
       Kami berada di posisi belakang iringan dengan santai menarik gas sepeda motor saya.sementara teman saya yang memberi usulan menjadi guide dari restoran bintang kesiangan yang di usulkannya tadi.


Di tengah jalan,tepat di depan kompleks ternama yang ada di kota ini,ada seorang pria yang menggunakan topi dan rompi berwarna hijau muda. Dia seperti sedang mengatur arus kendaraan yang keluar masuk dari komplek itu. Pemandangan seperti itu biasa di jumpai di depan kompleks bonafit seperti itu. Satuan pengaman yang ada di segala persimpangan maupun sudut kompleks itu.sementara kami melewati jalan tepat di depan ia berdiri tegak.ketika jarak kami semakin dekat,saya juga bingung kenapa dia juga malah mendekat,apa ini oknum aparat yang sedang putus asa dan berniat mengakhiri hidupnya.
Ternyata setelah jarak pandang kami terhadapnya tak lebih dari dua meter kami tercengang dan tak dapat berkata apa-apa lagi.dia yang di maksud bukanlah satpam yang biasa berjaga di depan kompleks megah itu. Dia seorang polisi lalu lintas.jika biasanya polantas disini berjaga dengan menggunakan helm yang kontras menandakan bahwa itu adalah polantas,tetapi kali ini tidak. Dia menggunakan topi seperti seorang satpam yang kami sangka tadi.tak lama ia langsung memalangkan tangannya di jalan kami dan memerintahkan untuk menepi ke sisi kiri jalan.mengucapkan salam yang kebanyakan masyarakat sudah hapal,“selamat pagi pak,bisa tunjukkan surat-suratnya”. Sementara itu sang guide berjalan melenggok seperti tak ada masalah.
Saya menunjukkan surat-surat saya dan setelah melihat itu semua dia langsung mengambil tumpukan kertas yang tak beraturan dari sepatu bootnya.dia mengisi formulir yang tertera di kertas merah itu. Tanpa memberitahu kesalahan saya. Akan tetapi saya sudah tahu persis bahwa dia melihat spion sepeda motor saya yang tak terpasang dan itu perkara yang ringan. Dan ketika saya mencoba menanyakan kesalahan saya. Dia mengucapkan “kamu tidak pasang spion dan boncengan kamu tidak memakai helmnya”. Saya langsung menoleh ke teman saya,melihat senyum penuh keluguannya. “jadi saya kena dua pasal pak?” tanya saya.”liat aja nanti di pengadilan” jawabnya tengik.
Dia memberikan surat merah yang tak lain adalah surat tilang,surat yang baru pertama kalinya saya dapatkan selama saya berkendara dan menukarnya dengan SIM saya.


Sedikit omelan dan kemudian melanjutkan perjalanan kami yang terputus itu. Kami menuju daerah yang di sebutkan guide tadi.

Ketika sampai disana kami mencari tempat makan yang ia sebut,ke kanan ke kiri kepala kami bergerak mencari dimana sepeda motor teman saya terparkir.kami  tak menemukannya.kami mencoba menghubunginya,ternyata dia berada di rumah kerabatnya.kami pun langsung menuju kesana,sesampainya disana dia tampak bersenda gurau,tertawa asyik dengan teman-temannya.kami sedikit kecewa dengan tingkahnya yang mengiming-imingi kami rumah makan enak,ternyata di balik pilihan itu,dia juga punya pilihan pribadi.kami langsung mengajak dia pergi ke tempat makan yang sebelumnya ia janjikan dan kami  pergi dengan menapakkan kaki ke tempat makan yang tak jauh dari rumah temannya itu.
Perasaan saya mulai berada dalam posisi kurang enak dan terjawab setelah kami mendapati rumah makan yang kami tunggu-tunggu ternyata tutup.kami hanya merespon dengan senyuman tak ikhlas dan terpaksa.
Kami kembali ke rumah temannya untuk mengambil sepeda motor yang di parkir disana dan langsung beranjak meninggalkan sang guide handal beserta kerabatnya dengan sebanyak-banyaknya kekonyolan lalu pergi menuju tempat makan yang saya usulkan tadi.
Selang beberapa hari saya kembali lagi tertangkap oleh polantas dan peristiwa yang begitu harmonis itu saya sebut dengan 30 -03 karena penilangan pertama terjadi pada tanggal 30 november dan kedua pada tanggal 3 desember.yap penutupan tahun yang manis.

Peristiwa ini bukan lah hal-hal yang tak biasa.ini sering terjadi,namun kurang pandai menyikapi dan terlalu terpenjara oleh ajakan teman.dan dari sini juga saya juga menarik pesan moral jika tak selamanya pengorbanan membuahkan hasil yang baik,mungkin hasil baik yang di cari itu akan muncul di lain waktu dan percaya akan hati nurani sendiri kemungkinan besar lebih akurat untuk menunjukkan tempat yang paling baik untuk diri kita tanpa ada intervensi dari pihak lain.setidaknya pengalaman lagi yang menjadi hadiah terbaik pada moment ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar