Aroma kemerdekaan muncul ketika jam perkuliahan
usai. Tak ada yang lebih indah selain beraktifitas bebas di pagi hari yang
cerah itu.tapi sebelum banyak bergerak salah satu syaratnya mungkin adalah mengganjal
perut terlebih dahulu. tak jauh dari kampus banyak tempat-tempat makanan yang
menawarkan jajanannya yang tak mengecewakan karena disesuaikan dengan
lingkungan mahasiswa atau juga anak perantauan (kos).
Hingga tibalah ajakan dari seorang kawan yang
memilih tempat makan jauh dari lingkungan yang saya sebut tadi.entah apa
motivasinya mencanangkan kesana.dia
seperti mengisyaratkan bahwasannya tempat itu makanannya yang terbaik di kota
ini. Saya beserta teman yang lain tampak kurang setuju dengan usulan itu,untuk
menutupi ketidak setujuan itu kami juga mengusulkan tempat makan yang tak jauh
dari kampus dan yang pastinya sudah di akui oleh kami sendiri.tetapi dia tetap
bersikeras mempertahankan usulannya.
Dengan berat hati kami pun beranjak kesana,dengan judul saling menghargai dan menghormati.kami
mengendarai sepeda motor beriringan melewati jalan universitas dan kemudian
berbelok memasuki gang kecil yang langsung mengantarkan kami ke jalan
besar.tampak angkot-angkot yang sibuk mengejar setoran dan saling menyalip tak
kenal ampun.
Kami berada di posisi belakang iringan dengan santai menarik gas
sepeda motor saya.sementara teman saya yang memberi usulan menjadi guide dari restoran bintang kesiangan
yang di usulkannya tadi.
Di tengah jalan,tepat di depan kompleks ternama
yang ada di kota ini,ada seorang pria yang menggunakan topi dan rompi berwarna
hijau muda. Dia seperti sedang mengatur arus kendaraan yang keluar masuk dari
komplek itu. Pemandangan seperti itu biasa di jumpai di depan kompleks bonafit
seperti itu. Satuan pengaman yang ada di segala persimpangan maupun sudut
kompleks itu.sementara kami melewati jalan tepat di depan ia berdiri
tegak.ketika jarak kami semakin dekat,saya juga bingung kenapa dia juga malah
mendekat,apa ini oknum aparat yang sedang putus asa dan berniat mengakhiri
hidupnya.
Ternyata setelah jarak pandang kami terhadapnya
tak lebih dari dua meter kami tercengang dan tak dapat berkata apa-apa lagi.dia
yang di maksud bukanlah satpam yang biasa berjaga di depan kompleks megah itu.
Dia seorang polisi lalu lintas.jika biasanya polantas disini berjaga dengan
menggunakan helm yang kontras menandakan bahwa itu adalah polantas,tetapi kali
ini tidak. Dia menggunakan topi seperti seorang satpam yang kami sangka
tadi.tak lama ia langsung memalangkan tangannya di jalan kami dan memerintahkan
untuk menepi ke sisi kiri jalan.mengucapkan salam yang kebanyakan masyarakat
sudah hapal,“selamat pagi pak,bisa tunjukkan surat-suratnya”. Sementara itu
sang guide berjalan melenggok seperti
tak ada masalah.
Saya menunjukkan surat-surat saya dan setelah
melihat itu semua dia langsung mengambil tumpukan kertas yang tak beraturan
dari sepatu bootnya.dia mengisi formulir yang tertera di kertas merah itu.
Tanpa memberitahu kesalahan saya. Akan tetapi saya sudah tahu persis bahwa dia
melihat spion sepeda motor saya yang tak terpasang dan itu perkara yang ringan.
Dan ketika saya mencoba menanyakan kesalahan saya. Dia mengucapkan “kamu tidak
pasang spion dan boncengan kamu tidak memakai helmnya”. Saya langsung menoleh
ke teman saya,melihat senyum penuh keluguannya. “jadi saya kena dua pasal pak?”
tanya saya.”liat aja nanti di pengadilan” jawabnya tengik.
Dia memberikan surat merah yang tak lain adalah surat tilang,surat
yang baru pertama kalinya saya dapatkan selama saya berkendara dan menukarnya
dengan SIM saya.
Sedikit omelan dan kemudian melanjutkan
perjalanan kami yang terputus itu. Kami menuju daerah yang di sebutkan guide tadi.
Ketika sampai disana kami mencari tempat makan
yang ia sebut,ke kanan ke kiri kepala kami bergerak mencari dimana sepeda motor
teman saya terparkir.kami tak
menemukannya.kami mencoba menghubunginya,ternyata dia berada di rumah
kerabatnya.kami pun langsung menuju kesana,sesampainya disana dia tampak
bersenda gurau,tertawa asyik dengan teman-temannya.kami sedikit kecewa dengan
tingkahnya yang mengiming-imingi kami rumah makan enak,ternyata di balik
pilihan itu,dia juga punya pilihan pribadi.kami langsung mengajak dia pergi ke
tempat makan yang sebelumnya ia janjikan dan kami pergi dengan menapakkan kaki ke tempat makan
yang tak jauh dari rumah temannya itu.
Perasaan saya mulai berada dalam posisi kurang
enak dan terjawab setelah kami mendapati rumah makan yang kami tunggu-tunggu
ternyata tutup.kami hanya merespon dengan senyuman tak ikhlas dan terpaksa.
Kami kembali ke rumah temannya untuk mengambil
sepeda motor yang di parkir disana dan langsung beranjak meninggalkan sang
guide handal beserta kerabatnya dengan sebanyak-banyaknya kekonyolan lalu pergi
menuju tempat makan yang saya usulkan tadi.
Selang beberapa hari saya kembali lagi tertangkap oleh polantas dan peristiwa yang begitu harmonis itu saya sebut dengan 30 -03 karena penilangan pertama terjadi pada tanggal 30 november dan kedua pada tanggal 3 desember.yap penutupan tahun yang manis.
Peristiwa ini bukan lah
hal-hal yang tak biasa.ini sering terjadi,namun kurang pandai menyikapi dan
terlalu terpenjara oleh ajakan teman.dan dari sini juga saya juga menarik pesan
moral jika tak selamanya pengorbanan membuahkan hasil yang baik,mungkin hasil
baik yang di cari itu akan muncul di lain waktu dan percaya akan hati nurani
sendiri kemungkinan besar lebih akurat untuk menunjukkan tempat yang paling
baik untuk diri kita tanpa ada intervensi dari pihak lain.setidaknya pengalaman
lagi yang menjadi hadiah terbaik pada moment ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar