Beberapa hari menjalani aktifitas di kampus baru.acapkali saya masih saja kurang hangat dengan orang-orang yang baru saya kenal.sudah menjadi kebiasaan untuk tidak terlalu lentur dengan habitat baru.
merasa segala gerak dan pemikiran saya berjalan dengan sendiri.
Saya sangat senang ketika di hari pertama perkuliahan di kampus yang sudah menjadi obsesi saya di jauh-jauh hari.saya sudah banyak menyusun rencana untuk menyalurkan apapun yang saya sukai di kampus ini.tentunya yang bersifat akademisi dan positif.tetapi kendala yang saya hadapi adalah sebenarnya masih seputaran attitude yang terpancar dari diri saya.
Modal utama untuk bisa dekat dan tidak canggung dengan orang baru mungkin adalah humor atau lawakan ringan,nah kebetulan saya kurang mahir untuk membuat guyonan dengan orang-orang yang baru saya kenal.saya banyak berjumpa dengan mahasiswa dari berbagai daerah yang tentunya mempunyai selera humor yang berbeda dan saya ragu ketika ingin berguyon dengan mereka karena mungkin apa yang saya ucapkan terdengar garing.
Dan alhasil tanpa di sadari saya sudah membentuk kepribadian yang pendiam dan kurang bersahabat.tetapi keadaan ini sangat bertolak belakang dengan saya.
Sulit untuk menggerakkan mulut untuk berbicara ketika saya bersebelahan dengan teman sekelas saya. pandangan saya hanya terpaku ke handphone ataupun buku yang sedang berada di depan saya.
riuh suara di dalam kelas saya tetap saja merasa sunyi dan lama kelamaan keadaan itu mengundang empati saya dengan orang lain dan itu terjadi secara alami dan bukan di rekayasa seperti di game bully.
Apa mungkin saya hanya butuh penetrasi yang lebih lama agar semua berjalan lancar atau saya tidak harus menjadi diri sendiri?
Tetapi saya tetap yakin sesuatu yang prosesnya non praktis,hasilnya akan bertahan lebih lama dan terfilter dengan baik.
Saya sangat berharap agar saya dapat cepat keluar dari keadaan siaga 1 ini dan tidak menemukan orang-orang yang hanya melengkapi sisi bodoh saya.
Maaf jika beberapa essay belakangan ini berisikan kegalauan tingkat mayor.tapi ini hanya sebagai terapi paling manjur untuk mengurangi sedikit demi sedikit beban psikis dan setiap orang yang membaca gak perlu repot-repot menyediakan tissue karena essay ini bukan bercerita tentang kisah Ratapan Anak Tiri.
Maaf jika beberapa essay belakangan ini berisikan kegalauan tingkat mayor.tapi ini hanya sebagai terapi paling manjur untuk mengurangi sedikit demi sedikit beban psikis dan setiap orang yang membaca gak perlu repot-repot menyediakan tissue karena essay ini bukan bercerita tentang kisah Ratapan Anak Tiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar